Malam itu, di temani secangkir kopi dan sebungkus rokok, saya dan
beberapa sahabat-sahabat di organisasi bercengkrama ngalur-ngidul lintas topik. Tidak ada konsep yang
jelas dalam perbincangan, membuat kami tergiring membicarakan banyak sektor.
Tanpa kami sadar, perbincangan kami menyentuh satu topik penting yang akhirnya
menggerakkan jemari penulis untuk membuat sebuah tulisan yang akan kita
sama-sama diskusikan dalam beberapa halaman berikut ini. Yakni masalah
“eksistensi Habaib (ahl bait) dalam Syariat Islam”. Terminologi ahl
bait yang kami gunakan disini tentu masih dalam koridor perspektif sunni.
Kita akan berbicara lebih dalam dan luas ketika membicarakan terma itu
dalam kerangka pemahaman syi’ah. dan penulis tidak tertarik
membicarakannya di sini. Keberadaan ahl bait dalam syariat Islam akan
kita diskusikan dalam kerangka pemahaman Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Poin yang akan kita diskusikan sebagai berikut :
1.
Siapakah ahl bait ?
2.
Mengapa kita harus menghormati mereka ? dan
bagaimana ta’dhim ideal kepada mereka ?
3.
Mengapa orang biasa tidak di perkenankan untuk
menikahi Syarifah ?
Secara berkala, tulisan di bawah ini mencoba menjawab
pertanyaan tersebut dengan bantuan dan referensi standar.
Untuk pertama ini, kita berupaya menganl siapa sebenarnya ahl
Bait
Siapakah Ahl Bait itu ?
Kita masuk pada
permasalahan pertama tentang siapakah yang dinamakan Ahl Bait. Secara etimologi
kalimat terangkai dari dua suku kata ahlun dan baitun. Dalam
kamus bahasa Arab kata Ahlun sering diartikan al-Aqorib wal Asyiroh
waz zaujah. Yang dapat diartikan orang-orang terdekat, pasangan dan
sebagainya. Dalam derivasinya, ia juga di gunakan dalam ahlud diyar yang
artinya penghuni rumah.
Dari sajian
bahasa sebagaimana di sebutkan diatas, bisa di rangkai sebuah pemahaman bahwa
yang dinamakan ahl adalah mereka yang mendiami, memiliki hubungan
kekerabatan, pasangan ikatan khusus pada sebuah objek.
Sedangkan Bait, dalam bahasa sehari-hari sering di maknai dengan rumah. Namun, dalam hakikat
syar’iyyah kata ini bila di sandingkan dengan kata Ahlun sebelumnya,
maka maknanya adalah : “keluarga Nabi Muhammad yang Turun dari pasangan
Sayyidina Ali dan Sayyidah Fathimah”. Definisi ini bisa di pahami dari sebuah
Hadist ahl al-Kisa’ sebagaimana masyhur di ketahui.
(3835)-
[3871] حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ
الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ،
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنّ النَّبِيَّ جَلَّلَ عَلَى الْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ،
وَعَلِيٍّ، وَفَاطِمَةَ كِسَاءً، ثُمَّ قَالَ: " اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ
بَيْتِي وَخَاصَّتِي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ، وَطَهِّرْهُمْ
تَطْهِيرًا "، فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: وَأَنَا مَعَهُمْ يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: " إِنَّكِ إِلَى خَيْرٍ ". قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وَهُوَ أَحْسَنُ شَيْءٍ رُوِيَ فِي هَذَا الْبَابِ، وَفِي
الْبَابِ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَأَبِي
الْحَمْرَاءِ، وَمَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، وَعَائِشَةَ
Hadis diatas di sebutkan di dalam Sunan at-Turmudzi, menjelaskna
tentang Ahlul Bait Rasul atau juga di kenal dengan sebutan ahlul
kisa’. Dalam Hadis itu di ceritakan oleh Ummu Salamah Bahwa Rasulullah Saw
menggelar Kisa (sebuah kain selendang) atas Sayyidina Hasan dan Husain,
juga Sayyidah Fathimah dan Sayyidina Ali seraya berkata “Ya Allah mereka adalah
ahlul bait-ku, buanglah dosa mereka, dan sucikan mereka sesuci mungkin”.
Dari Hadis
diatas, ahlul kisa’ yakni Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain yang
keduanya merupakan anak dari pasangan Sayyidah Fathimah dan Sayyidina Ali. Ke
empat orang ini adalah Ahlul Bait Rasulullah yang dari menurunkan Dzurriyat Rasul sampai
sekarang.
Hadis ini
menurut pandangan sebagian ulama adalah salah satu dari penguat dari pada ayat
yang menjelaskan tentang Ahlul Bait sebagaimana di jelaskan di dalam
kitab Nahjur Rosyad fi Nadhmil i’tiqod karya Syekh Yusuf Bin Muhammad
Bin Mas’ud bin Muhammad :
وأهل بيته في الأصل هم:
نساؤه - صلى الله عليه وسلم - وفيهن الصديقة عائشة - رضي الله عنهن جميعا - كما هو
صريح قوله تعالى في (الأحزاب): (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ
الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرا) بدليل الآية التي قبلها
والتي بعدها: (يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ
اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ
مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفاً. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ
تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ
وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ
الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً. وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى
فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفاً
خَبِيراً) , وتخصيص الشيعة (أهل البيت) في الآية بعلي، وفاطمة، والحسن، والحسين -
رضي الله عنهم - دون نسائه - صلى الله عليه وسلم - من تحريفهم لآيات الله تعالى
انتصاراً لأهوائهم كما هو مشروح في موضعه, وحديث الكساء، وما في معناه غاية ما
فيه: توسيع دلالة الآية، ودخول علي وأهله فيها، كما بينه الحافظ ابن كثير وغيره,
Dalam Al-Quran
sendiri, yang di maksud dengan Ahl Bait adalah Istri-istri Rasulullah
Saw sebagaimana di jelaskan di dalam surah al-Ahzab ayat 33 yang berbunyi :
(إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ
الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرا)
Hal ini bisa di
pahami dari pada pemaparan ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang
keistimewaan dan hal-hal khusus yang di perintahkan kepada para Istri-istri
Nabi. Maka secara otomatis, kata ahlul bait dalam surat al-Ahzab ayat 33
itu adalah istri-istri Nabi. Adapun Hadis ahlul kisa’ sebagaimana di
singgung diatas merupakan penguat dari pada ayat ini serta menambahkan
kuantitas ahlul bait dengan masuknya cucu-cucu Rasul, Sayyidah Fathimah
dan juga Sayyidina Ali. Hal ini berbeda dengan orang Syiah yang hanya berpegang
pada Hadis ahlul kisa’ ini dan mencukupkan ahlul Bait hanya
kepada Sayyidina Hasan Husain, Sayyidah Fathimah dan Sayyidina Ali. Adapun
pendapat ulama Sunni menyatakan bahwa ahlul bait Rasul adalah para Istri
Nabi kemudian anak keturunan dari Syyidah Fathimah dan Sayyidina Ali karromallahu
wajhahu.
Pandangan ini di
perjelas di dalam kitab Mas’alah at-Taqrib Baina ahlissunnah wa as-Syiah karya
Dr. Nashir bin Abdullah Ali al-Qofari :
ومما
يدل على دخول أزواجه في "أهل بيته" - عليه السلام - قوله تعالى في خطاب
نساء نبيه - صلى الله عليه وسلم - (وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ
تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ
وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ
الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) فهذه الآية ظاهرة الدلالة
على أن زوجاته - صلى الله عليه وسلم - من أهل بيته، ولهذا قال ابن كثير: (الذي لا
يشك فيه من تدبر القرآن أن نساء النبي - صلى الله عليه وسلم - داخلات في قوله
تعالى: (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) فإن سياق الكلام معهن، ولهذا قال تعالى بعد
هذا كله (واذكرن ما يتلى في بيوتكن
منءَايت الله والحكمة) .وقال بدخولهن في
ذلك جمع كبير من المفسرين
Masuknya Istri-istri Nabi ke dalam kategori ahlul bait dapat
di sesuaikan dengan siyaq al-Kalam yang berbicara dalam ayat-ayat
sebelumnya dalam surat al-Ahzab 33 tersebut. Pendapat ini juga di sepakati oleh
para mufassirin mayoritas.
Bahkan Mengenai Ahlul
Bait ini lebih di pertegas dan di perjelas dalam kitab Ma’arijul Qobul karya
Syekh Abu Ashim Hisyam bin Abdul Qadir sebagai berikut :
وَيَدْخُلُ
في أهل بيته أيضاً الَّذِينَ جَلَّلَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِسَائِهِ كَمَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: خَرَجَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْط مُرَحَّل مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ
عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَتْ
فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ: {إِنَّمَا
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً} .
وَيَدْخُلُ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ آلِهِ
الَّذِينَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمُ الصَّدَقَةُ بَنُو هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ
كَمَا فِي الصَّحِيحِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ
Pandangan dalam
kitab ma’arij al-Qobul ini berangkat dengan mengutip Hadis ahlul
kisa’ dari Shohih Muslim hanya saja redaksinya berbeda dengan Hadis yang di
keluarkan oleh Imam Turmudzi. Dalam Hadis yang di keluarkan oleh Imam Turmudzi
di ceritakan bahwa ketika Ahlul kisa’ berkumpul, maka Rasulullah berdoa dengan
meminta agar mereka di sucikan dari dosa sesuci-sucinya, sedangkan dalam
Riwayat yang di keluarkan oleh Imam Muslim Rasulullah mengutip ayat al-Quran
surat al-Ahzab ayat 33 sebagaimana diatas. Hal ini mafhum, karna Hadis ahlul
kisa’ ini di riwayatkan dengan jalur bil ma’na. maka perbedaan
redaksi dapat di kompromikan.
Berdasarkan
analisis diatas, jelaslah bahwa yang dinamakan ahlul bait tidak hanya ahlul
kisa’, tapi istri-istri Rasul juga termasuk dari pada ahlul bait Nabi
Muhammad Saw. Bahkan dalam petikan karya Abu Ashim diatas di perluas dengan di
masukknya keluarga Rasul yang di haramkan menerima Zakat. Hal ini di pertegas
oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamdul Ibad Al-Badr dalam kitabnya Fadhlu Ahli
Al-Bait wa Uluwwu Makanatihim Inda Ahlissunnah wal jama’ah.
فإنَّ
هذه الآيةَ تدلُّ على دخولِهنَّ حتماً؛ لأنَّ سياقَ الآيات قبلها وبعدها خطابٌ
لهنَّ، ولا يُنافي ذلك ما جاء في صحيح مسلم عن عائشة رضي الله عنها أنَّها قالت:
" خرج النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم غداةً وعليه مِرْطٌ مُرَحَّل من شَعر
أسود، فجاء الحسن بن علي فأدخله، ثمَّ جاء الحُسين فدخل معه، ثم جاءت فاطمةُ
فأدخلها، ثمَّ جاء عليٌّ فأدخله، ثمَّ قال: {إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ
عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} "؛ لأنَّ
الآيةَ دالَّةٌ على دخولِهنَّ؛ لكون الخطابِ في الآيات لهنَّ، ودخولُ عليٍّ وفاطمة
والحسن والحسين رضي الله عنهم في الآيةِ دلَّت عليه السُّنَّةُ في هذا الحديث،
وتخصيصُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لهؤلاء الأربعة رضي الله عنهم في هذا
الحديث لا يدلُّ على قَصْرِ أهل بيته عليهم دون القرابات الأخرى، وإنَّما يدلُّ
على أنَّهم مِن أخصِّ أقاربه.
Beliau Syekh Abdul Muhsin menjelaskan bahwa : ayat 33 dari
surah al-Ahzab sebagaimana diatas menunjukkan bahwa Istri-Istri Rasulullah
masuk dalam kategori ahlul bait dengan memperhatikan siyaqul kalam dalam
ayat semuanya memberikan khitob kepada mereka (istri-istri Nabi). Hal
ini beliau kuatkan dengan Hadis dalam sohih Muslim sebagaimana diatas. Adapun pengkhususan Nabi terhadap empat
orang sebagaimana dalam Hadis ahlul kisa’ diatas, tidak menunjukkan
tingkat vitalitas ahlul bait yang satu dengan lainnya, melainkan
menunjukkan kadar sentralitas kedekatan mereka kepada Rasulullah. Dalam argumen
yang lebih logis, pengkhususan keempat ahlul bait dalam Hadis kisa’ ,
untuk menunjukkan sentralitas keempat orang diatas karna dari merekalah sumber
keturunan Rasul yang ada sampai sekarang.
Allahumma
Sholli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallim.....

0 Response to "MENGENAL AHLUL BAIT"
Posting Komentar