OLEH; M.
HASANIE. MB
Islam
adalah agama universal yang memiliki keunikan dalam berbagai sudut pandang.
Berbagai wacana keislaman yang senantiasa menemani perjalanan panjang agama ini
hingga menuju kedewasaan usia banyak menemui lika-liku yang kadang sulit untuk
diluruskan. Berbagai paham, aliran, madzhab, dan gaya penerapan syariat
merupakan problematika keberagaman cara interaksi setiap muslim dalam
menginterpretasi doktrin islami yang menjadi landasan pokok dan ide dasar dalam
mengambil hukum . dengan berbagai cara dan corak yang banyak sekali perbedaan
didalamnya, maka doktrin-doktrin itu menjadi semakin liar dan seakan semakin
sulit dicapai titik temu yang pada akhirnya dianggap sebuah kebenaran universal
ala socrates.
Alquran dan Hadits yang dalam hal ini adalah induk dari segala
keberagaman itu, menjadi sangat sentral keberadanya. Ribuan orang baik dari
kalangan muslim sendiri maupun non muslim, telah mengkaji dan mendeklarasikan
ketertarikan mereka pada kitab yang telah turun sekitar lima belas abad yang
lalu ini. Orang-orang barat yang sangat ambisius dalam berbagai hal yang berbau
teknologi kini mulai banyak beralih kepada dunia studi islam, meski dengan niat
yang kadang tak dapat dibenarkan. Mereka beranggapan bahwa agama islam berikut
serta seluruh orang yang bernaung dibawah panjinya, merupakan sebuah objek
kajian yang tiada habis diperbincangkan pada setiap perguruan tinggi di dunia
barat.
Ketertarikan mereka pada agama islam, selain karna banyaknya
keunikan yang ada didalamnya, mereka juga memiliki keinginan mengelabui dan
memukul balik agama ini dengan berbagai senjata licik yang mereka rebut dari
dunia islam. Segala upaya mereka lakukan demi mencapai dan menemukan sebuah
titik lemah yang mereka anggap dapat memukul mundur umat muslim dimanapun
berada. Berbagai metode dan cara juga mereka lancarkan, bahkan terkadang
sentuhan halus yang mereka lakukan merupakan pukulan maut yang ternyata
membungkam mulut ribuan orang islam. Yang lebih ironis terkadang, bukan lagi
orang barat itu yang memerangi islam, tapi musuh itu datang dari balik “tirai
ka’bah” dan memporak porandakan semua yang ada.
Orientalis memegang peranan penting dalam upaya pemblokiran islam
sebagai agama yang baik. Mereka membawa
dan melakukan sentuhan dingin yang pada akhirnya membuat islam akan dikecam, di
intimidasi, dan dianggap teroris. Berbagai persoalan umat yang terjadi dewasa
ini tak lain adalah sebuah akibat dari kesalahan yang mungkin sulit dibenahi
dan sukar untuk dikoreksi dan disadari oleh semua lapisan umat islam. Kesalahan
itu bersumber dari hilangnya kesadaran dan jiwa integritas yang sejak dahulu
kala menjadi sebuah kekhasan yang dimiliki oleh islam sendiri.
Persoalan itu adalah awal dari gerbang perpecahan yang dirasakan
oleh umat islam sekarang. Mungkin kita dapat berkaca pada sejarah, ketika
tragedi perpecahan yang diakibatkan oleh masalah politik telah memecah belah
ideologi bahkan pemahaman para sahabat waktu itu. Padahal mereka adalah
orang-orang yang bertemu langsung dengan sang pembawa syariat. Namun karna
egois yang membutakan mereka, dinamika politik yang merobek-robek persatuan,
akhirnya mereka mejadi terkotak-kotak yang semuanya berisi kebengisan satu sama
lain, saling mengkafirkan menjadi ciri khas yang sangat mencolok didalamnya.
Upaya dalam menggulirkan lawan politik melegalkan segala cara kadang adalah
sebuah kewajiaban yang dilandaskan pada tafsir buta.
Perpecahan itu tidak terhenti dimasa-masa setelahnya, malah semakin
syarat didengar tatkala agama ini semakin tua dengan usianya. Bahkan yang lebih
dianggap gila, adalah adanya oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan agama,
kemudian melakukan berbagai distorsi dan pemberangusan nilai-nilai dan norma
suci yang berlindung dibawah teks. Itu tidak bisa kita pungkiri. Karna sampai
zaman sekarang, aroma perpecahan dan distorsi doktrin itu masih terjadi.
Sebagai contoh konkrit ialah, adanya ISIS yang dengan nama islam, golongan
sesat ini melakukan berbagai penyelewengan ajaran dan dogma pada wadah yang
bukan tempatnya.
Berkaca pada berbagai fakta
memilukan itu, seharusnya membuka mata hati setiap pribadi bahwa, agama ini
semakin tua semakin bercabang dan bercorak-corak. Dan bukan hal itu yang
diharapkan oleh rasul sang pembawa syariat, bukan islam yang bervariasi, yang
monoton, stagnan, dan jumud, yang pada akhirnya akan membawa para pemeluknya
kepada sifat fanatik yang tak terkendali, dan itulah awal perpecahan bermuara. Tapi
beliau mengharap sebuah keharmonisan, kedamaian, bersatu dalam keberagaman yang
nantinya akan mewujudkan sebuah keindahan universal yang dibawa oleh agama islam
dalam menebarkan kebenaran yang bersumber pada pengejawantahan makna “islam
rohmatan lil alamin”.islam yang membawa rahmat kedamaian sejati bagi
pemeluknya dan orang yang tidak memeluknya. Menimbulkan kembali jiwa integritas
dan cinta ilmu pada kawula muda, adalah langkah tepat agar islam setidaknya
mampu terkikis dari kejumudan berfikir yang merupakan sumber desintegrasi umat
dan bangsa.

0 Response to "MENGIKIS KEJUMUDAN BERAGAMA"
Posting Komentar