Terma
diatas sering kali di singgung oleh orang untuk memberikan
“tanda baca” terhadap sebuah entitas atau realitas pemikiran keagamaan yang
berkembang dalam sebuah fakta sosia- geografis dan kultur tertentu. Antonim
dari terma ini -sependek pengetahuan saya- tidak di temukan frasa yang memang
menunjukkan sisi diametral sama sekali sebagai lawan kata ini. Kata terma
“muslim perkampungan” atau bahasa yang sama padananya belum tercetuskan juga.
Hal ini jadi menarik, karna kemudian lahir sebuah pertanyaan, bagaimana terma
itu bisa lahir begitu saja untuk membaca sebuah realitas, sementara realitas
kebalikannya tidak ada terminologi yang memadai ?
Lantas kenapa terma diatas lahir ?. hal ini tentu di
tengarai oleh sebuah realitas yang memang tidak stabil dalam sebuah pemikiran.
Terjadi ketimpangan sporadis dalam realitas masyrakat perkotaan. Dimana
perubahan itu menyerang orang-orang elit perkotaan. Sedangkan realitas
sebaliknya tidak memperoleh perubahan itu dan justru lebih tradisional.
Terma diatas lebih tepatnya digunakan untuk membaca dua
arus besar pemikiran Islam yang diwakili oleh dua Ormas besar Tanah Air. NU dan
Muhammdiyah. Dua ormas ini pada awalnya lahir sebagai dalam rangka meningkatkan
sumber daya umat Islam untuk menjaga keutuhan NKRI yang masih dalam cengkraman
penjajah. Pada dekade berikutnya, dua ormas ini mencapai titik dimana keislaman
sebagai fondasi pemikiran, membentuk dua kutub karakter keislaman yang berbeda.
NU yang mengusung Post-Tradisionalisme, menjelma menjadi sebuah gerakan
keislaman yang lebih akomodatif terhadap tradisi keberislaman umat, sedangkan
Muhammadiyah dengan Modernismenya menjadi sebuah gerakan yang
multi-transformatif. Walau demikian, kedua ormas ini memiliki kesamaan visi
membangun fondasi asas pemikiran di Indonesia agar terus berkembang dan maju.
Terma “muslim perkotaan” pada akhirnya di sematkan kepada
Muhammadiyah oleh karna corak keberislaman yang lebih bercorak fiqh-sentris dan
mempertanyakan banyak keabsahan tradisi dalam Islam yang berkembang di
Indonesia. Sedangkan NU masih dalam basis pemikiran sufistik mengakomodir
berbagai tradisi dan lebih akomodatif terhadap tradisi lokal keislaman.
Kemudian distingsi pemikiran melahirkan dua corak yang mendominasi warna
keislaman sejak dari
saat itu, modernis dan tradisionalis. Modernis sebagian besar disandang oleh
muslim perkotaan, sedangkan tradisionalis di pegang erat oleh orang-orang yang
lebih halus menyikapi tradisi.

0 Response to "MUSLIM PERKOTAAN & PEDESAAN (Embrio Pergolakan Pemikiran Era Reformasi)"
Posting Komentar